DUA WAJAH YANG SALING MENENTANG, BUKTI SADISNYA MANHAJ TIPU DAYA DZULWAJH…

๐ŸŒ—|๐ŸŒ“DUA WAJAH YANG SALING MENENTANG, BUKTI SADISNYA MANHAJ TIPU DAYA DZULWAJHAIN MASYAYIKH MMA TERHADAP ZAKARIYA BIN SYU’AIB YANG MALANG

Pembaca rahimakumullah,
Sampai hari ini Zakariya bin Syu’aib tidak memposting bara’ah pengingkaran dan penolakan keras Luqman Ba’abduh atas fatwa bimbingannya.

Sebab inti masalahnya memang bukan sekadar โ€œada atau tidak adanya pengingkaranโ€, melainkan:

Mengapa dukungan Zakariya tetap dipromosikan luas kepada penutur bahasa Arab tanpa tanbih yang sama, sementara kepada penutur bahasa Indonesia justru disertai penolakan keras?!

Pertanyaan itu sendiri sudah cukup untuk mengguncang konsistensi narasi singgasana Kontradiksi Masyayikh MMA al-Jemberi.

Mari kita bedah keuntungan Masyayikh MMA di balik narasi inkonsistensi akut DZULWAJHAIN ini

MERAIH ‘LABA’ DARI ZAKARIYA BIN SYU’AIB DALAM BINGKAI DUA WAJAHNYA YANG SALING MENENTANG: ANTARA SEBAGAI PAHLAWAN DAN MENJADIKANNYA SEBAGAI PECUNDANG

๐ŸฅฅPenata wajah: Luqman Ba’abduh dan team orbit Masyayikh MMA

https://t.me/sekelumitsejarah/3049

1 Secara analitis data

โˆ† Terdapat dual framing kepada dua audiens berbeda bahasa.
โˆ† Terdapat perbedaan pesan antara konsumsi publik Arab dan Indonesia.

โˆ† Serta ada pesan kuat bahwa satu materi dipakai untuk dua fungsi sekaligus:

โ˜ข Legitimasi eksternal,
โ˜ฃ Pencitraan internal.

Dalam ilmu komunikasi dan propaganda politik, pola seperti ini sering disebut:

โ€ขDouble messaging,
โ€ขAudience segmentation, atau…
โ€ขTwo-layer narrative.

๐Ÿ”Yaitu ketika satu pihak menyampaikan pesan berbeda kepada kelompok berbeda demi memperoleh keuntungan citra di masingยฒ komunitas tujuan.

โ€œPola ini menyerupai strategi komunikasi dua wajah: kepada komunitas berbahasa Arab ditampilkan dukungan Zakariya terhadap Luqman, sedangkan kepada komunitas berbahasa Indonesia ditampilkan pengingkaran terhadap pujian Zakariya, sehingga kedua audiens menerima kesan berbeda yang samaยฒ menguntungkan posisi Luqman Baโ€™abduh.โ€

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah memperingatkan:

ูˆูŽู‡ูŽุง ู‡ูู†ูŽุง ู†ููƒู’ุชูŽุฉูŒ ุฏูŽู‚ููŠู‚ูŽุฉูŒุŒ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽุฐูู…ู‘ู ู†ูŽูู’ุณูŽู‡ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูŠูุฑููŠุฏู ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฑููŠูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูุชูŽูˆูŽุงุถูุนูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽ ู†ูŽูู’ุณูู‡ูุŒ ููŽูŠูŽุฑู’ุชูŽููุนู ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽู…ู’ุฏูŽุญููˆู†ูŽู‡ู ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูู†ู’ ุฏูŽู‚ูŽุงุฆูู‚ู ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ุฑู‘ููŠูŽุงุกูุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ู†ูŽุจู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽูู ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญู.

ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ุทุฑู ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุงู„ุดุฎูŠุฑ: ูƒูŽููŽู‰ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูู’ุณู ุฅูุทู’ุฑูŽุงุกู‹ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุฐูู…ู‘ูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุฅูุŒ ูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽูƒูŽ ุชูุฑููŠุฏู ุจูุฐูŽู…ู‘ูู‡ูŽุง ุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุณูŽููŽู‡ูŒ.

“Di sini ada sebuah hal detail yang penting, yaitu seseorang terkadang mencela dirinya sendiri di hadapan manusia dengan tujuan untuk memperlihatkan bahwa dia orang yang tawadhuโ€™, sehingga dengan itu dirinya bisa terangkat di sisi mereka dan mereka pun memujinya. Yang semacam ini termasuk pintu-pintu riyaโ€™ yang sangat halus. Dan para ulama salaf telah mengingatkannya.

Mutharrif bin Abdillah bin Asy-Syikhir rahimahullah berkata:

โ€œCukup sebagai bukti bahwa seseorang memuji dirinya sendiri tatkala dia mencelanya di hadapan orangยฒ, seakan-akan engkau ingin menghiasinya dengan cara mencelanya. Dan hal itu di sisi Allah adalah kedunguan.”
(Majmu’ Rasail, 1/88)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top